MOHON MAAF BLOG SEDANG DALAM PENYETELAN TEMPLATE AGAR KAMI BISA LEBIH PROFESIONAL LAGI DALAM MEMBERIKAN INFO YANG ANDA BUTUHKAN, MOHON BERSABAR INI TIDAK BERLANGSUNG LAMA,TERIMA KASIH ATAS PENGERTIANNYA...
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts

Tanda Ayam akan Bertelur


Ayam betina dewasa yang sudah kawin dan siap bertelur, penampilannya sangat periang. Sepanjang hari memeti (sibuk mencari sarang untuk bertelur) dan rajin mencari makanan di sekitar kandang. Bulu badannya rapat menghimpit satu sama lain, teratur rapid an mengkilap. Temboloknya penuh berisi makanan, tetapi tidak keras kalau diraba terasa hangat dan berjaringan halus.
Badan bagian belakang membesar, agak menonjol ke bawah, seolah-olah berbentuk pundi. Dinding perutnya agak tipis tampaknya, karena lapisan lemaknya berkurang. Lembut rasanya kalau diraba dari luar. Duburnya basah, berbentuk bulat panjang agak membusung. Tepat pada waktu bertelur, air mukanya agak pedih bagi ayam yang baru bertelur untuk pertama kali.
Biasanya setelah bertelur 15-20 butir, ayam menunjukkan tanda-tanda akan mengeram. Sepanjang siang dan malam duduk dalam sarangnya, bulu dadanya rontok sehingga botak kulitnya, dan mengeluarkan suara khas “kok,kok,kok,….” Jengger dan cupingnya tampak kisut dan pucat warnanya. Berat badan menyusut, kotoran agak emcee, bulu leher menjadi tegak seolah marah kalau didekati orang, mungkinh ketenangannya merasa terganggu. Kalau pengeramannya akan diteruskan untuk mendapatkan anak ayam, sediakanlah tempat pengeraman yang ruangnya teduh, kering dan tenang suasananya. Ruangan itu baik sirkulasinya, sehingga udaranya selalu segar.

Pembuatan Konsentrat bentuk Pellet

Karakterisasi
Karakterisasi merupakantahap awal yang selalu digunakan dalam proses pengolahan. Karakterisasi yaitu pengumpulan dan evaluasi terhadap informasi yang dimiliki bahan meliputi:
    1. sifat fisik, kimia dan biologis
    2. Fungsi bahan secara biologis dan social
    3. Nilai ekonomi bahan (harga dan kompetisi)
    4. Ketersediaan (produksi dan kelangkaan)
Seleksi
Seleksi adalah mempertimbangkan apa yang dimiliki dan apa yang dikehendaki. Seleksi ini dimulai dari informasi yang didapatkan dari karakterisasi merumuskan tujuan pengolahan bahan pakan, kemudian analisis dari bahan pakan dilihat dari segi positif dan negatif dari penggunaannya. Setelah dilkukakan seleksi maka akan dihasilkan bahan-bahan pilihan
Receiving
  • Pengadaan bahan pakan
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengadaan bahan pakan adalah:
    • Bahan baku yang dibeli berkualitas bagus yang telah dilengkapi dengan hasil analisis laboratorium
    • Daerah untuk penerimaan dan pembongkaran bahan baku harus bersih dan drainase yang baik
    • Transportasi yang akan digunakan untuk mengangkut bahan baku harus diperiksa keadaan fisik dan kebersihannya. Kendaraan untuk mengangkut ternak tidak digunakan untuk mengangkut pakan.
      • Pengelolaan bahan pakan
  • Pengambilan sampel bahan pakan dilakukan pada saat awal, pertengahan dan di akhir pemuatan dan diambil pada 5 tempat pada kemasan material yaitu 4 sudut dan bagian tengah. Pengambilan sampel ini diambil dengan arah diagonal. Apabila bahan baku berupa cairan pengambilan sampel dapat dilakukan setelah bahan cair tersebut didiamkan 5 menit.
  • Semua sampel harus diletakkan pada peti yang besar kemudian dicampur dan sebanyak ¼ sampai dengan ½ kg diletakkan pada temapat tertentu untuk identifikasi. Identifikasi yang dilakukan adalah tanggal, nomor kendaraan, bahan baku, jumlah penerimaan, nama pemasok dan nama pengambil sample.
  • Semua sample dan produk harus dijaga dari kerusakan yang disebabkan oleh tikus, serangga, kelembaban dan jamur. Pencegahannya dapat ditempatkan di dalam freezer.

Jenis Ayam

Ayam adalah salah satu yang paling umum jenis burung yang ditemukan di negara tropis setelah gagak dan burung pipit. Hal ini juga salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia. Populasi ayam lebih daripada burung lainnya. Ini adalah sumber utama dari makanan, dalam hal daging dan telur keduanya. Ada berbagai keturunan ayam yang ditemukan di lokasi geografis yang berbeda. Terutama ayam dapat dibagi menjadi tiga keturunan:
  • Murni keturunan
  • Bertelur hibrida
  • Campuran hibrida
Ada ayam bertelur, mereka dimaksudkan untuk dipotong dan dual-tujuan keturunan juga. Para bertelur keturunan secara genetik siap untuk memiliki produktivitas telur tinggi tetapi kemudian karena burung-burung ini memiliki tubuh kecil, mereka penyedia daging miskin. Kami aula kita lihat berbagai jenis ayam di artikel ini Buzzle.

Dapatkah jenis yang berbeda dari Ayam Breed Bersama?
Sering kali, orang yang berpikir ayam pembibitan, sering bertanya-tanya, jika berbagai jenis ayam dapat berkembang biak bersama. Ayam-ayam dimaksudkan untuk konsumsi bukan keturunan dalam arti sebenarnya dari istilah tersebut. Mereka adalah hibrida, yang sebenarnya merupakan kombinasi dari keturunan yang berbeda. Mereka disiapkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki massa tubuh lebih banyak, sehingga membuat mereka layak untuk dikonsumsi. Para dwiguna ayam, seperti namanya, dimaksudkan untuk memproduksi telur dan pembantaian. Dalam kategori ini ada beberapa ras yang berfungsi sebagai penyedia telur lebih baik, dan beberapa sebagai sumber daging. Jadi, jika Anda memiliki ayam besar dan Bantam dalam kawanan Anda, Anda dapat mencobanya untuk berkembang biak mereka. Umumnya, ayam bergaul satu sama lain dan tidak akan keberatan kawin di antara mereka sendiri.

Jenis Breeds Ayam: Gambar
Jenis Ayam (Klik pada Gambar untuk Preview)
Ayam jago
Buff Rooster Polandia LacedBuff Batu RoosterPaskah EggerAustralia AustralorpSilken AyamPerak Laced WyandotteSussex BreedPrairie AyamHitam dan Putih Ayam

Jenis Ayam Ras

Perkembangan ternak ayam di Indonesia dikenal golongan ayam piara ialah ayam kampung (lokal) dan ayam ras. Diantara ayam lokal terdapat bangsa ayam cukup terkenal sejak dulu, dan menjadi sumber darah ayam-ayam ras yang terbentuk di Inggris dan Amerika yakni ayam kedu.
                 Ayam kedu ditemukan di Desa Kedu Temanggung Jawa Tengah. Ayam kedu bervariasi warnanya, tetapi yang terkenal ialah berwarna hitam dan balung pial dan kuping berwarna merah, berat badan dewasa (2 tahun) mencapai 3,6 kg dan betina 3 kg, produksi telur hanya mencapai 50-100 butir pertahun.
Ayam Leghorn
                 Ayam ini berasal dari Italia dan menyebar hampir keseluruh dunia, terutama yang berwarna putih (white leghorn) dan merupakan ras ayam terkenal dewasa ini, type petelur yang ideal dengan warna cekung, telur putih, white leghorn warna paruh dan kakinya, balung satu baris (single comb) dengan warna merah, pial warna merah, kuping kecil warna putih kebiru-biruan pipi dan kulit sekitar mata merah, bentuk jengger yaitu jengger tunggal (single cumb)..

Sapi Limousin

Sapi Limousin adalah bangsa Bos turus (Talib dan Siregar, 1999), dikembang-kan pertama di Perancis, merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental, warna bulu coklat tua kecuali disekitar ambing berwarna putih serta lutut kebawah dan sekitar mata berwarna lebih muda
limousin 1 300x202 Sapi Limousin
Bentuk tubuh sapi jenis ini adalah besar, panjang, padat dan kompak.
Keunggulan dari jenis sapi ini pertumbuhan baannya yang sangat cepat
limousin 3 300x188 Sapi Limousin
Secara genetik, sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford

Sapi Brahman Cross

Brahman Cross Alias Bx Alias ACC (Australian Comercial Cross)
Brahman Cross Alias Bx Alias ACC (Australian Comercial Cross)

Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss indiccus yang berkembang pesat di Amerika Serikat yang beriklim tropis. Sapi ini masuk ke AS pada tahun 1849. Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan.
Brahman yang berkembang di Australia dan kemudian di ekspor ke Indonesia pada umumnya disebut Brahman Cross (BX). Jenis sapi ini sudah membawa keturunan sapi Eropa. Antara sapi jantan dan betina mempunyai perbedaan persentase genetik yang dikandungnya.
Brahman Cross jantan mempunyai 87,5% keturunan Brahman dan 12,5% merupakan keturunan sapi Eropa. Sapi ini dicirikan dengan bulunya yang tipis dan berwarna putih atau kelabu. Otot tubuh kompak dan berpunuk. Kepala besar dan tidak beratanduk . Paha besar dan kaki panjang, gelambir mulai dari rahang bawah sampai ujung tulang dada depan tidak terlalu berlipat-lipat. Sapi betina Brahman Cross mempunyai 75% keturunan Brahman dan 25% keturunan sapi Eropa. Kepala besar dan dengan telinga yang lebar menggantung. Otot tubuh tidak begitu kompak seperti sapi jantan yang berpunuk. Sifatnya tahan dengan panas dan tahan terhadap gigitan caplak ataupun nyamuk.
Bobot sapi jantan dewasa maksimum dapat mencapai 800 kg, sedangkan sapi betina 550 kg. Dengan pemeliharaan intensif, pertambahan berat badan sapi jantan dan betina Brahman dewasa dapt mencapai 0.83-1,5 kg/hari. Persentase karkas 48,6-54,2%.

BEBERAPA JENIS SAPI POTONG

Bangsa sapi yang ada didunia saat ini sebenarnya merupakan produk domestikasi (penjinakan) sapi mulai jaman promitif. Kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama, Bos Indicus
Kelompok sapi ini berkembang baik di India yang kemudian berkembang ke daratan Asia Tenggara (salah satunya, Indonesia), Afrika, Amerika dan Australia. Disebut juga sapi ‘Zebu’ (berpunuk), dengan salah satu keturunannya di Indonesia kita kenal dengan nama Peranakan Ongole dan Brahman, di Amerika dikenal dengan sebutan American Brahman.
Kelompok kedua, Bos Taurus
Menurunkan kelompok sapi perang dan potong di daratan Eropa, belakangan menyebar ke Amerika, Australia dan Selandia Baru. Indonesia juga turut mencoba mengembangkannya. Jenis-jenisnya antara lain : Aberdeen Angus, Hereford, Shorthorn, Charolais, Simmental dan Limousine.
Kelompok ketiga, Bos Sondaicus (Bos Bibos)
Merupakan kelompok yang berkembang di Indonesia, yang merupakan keturunan banteng. Jenisnya antara lain : Sapi Jawa, Sapi Sumatera, Sapi Bali dan sapi-sapi lokal lainnya.
Beberapa strain ternak sapi potong antara lain :

Sapi Brahman


brahman1 Sapi brahman
Sapi Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss Indiscuss. Aslinya berasal dari India kemudia masuk ke Amerika pada tahun 1849 berkembang pesat di Amerika, Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar, gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan.

Sapi Ongole

Sapi Ongole adalah sapi keturunan sapi liar Bos Indicus yang berhasil dijinakan di India. Di Indonesia, sapi ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Sumba Ongole (SO) dan sapi Peranakan Ongole (PO).
Sumba Ongole adalah keturunan murni sapi Nellore dari India yang didatangkan tahun 1914. Sapi ini dikembangkan secara murni di Pulau Sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar Ongole di dalam negeri.
Persilangan antara Sumba Ongole dengan sapi setempat di jawa menghasilkan anakan yang mirip sapi Ongole sehingga sapi ini disebut dengan sapi Peranakan Ongole.
Ciri khas sapi Ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama sapi jantan. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang. Tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan sapi jantan. Telinga panjang dan menggantung sapi, Ongole akan dewasa kelamin pada umur 24-30 bulan.
Sapi Ongole tergolong lambat dewasa. Jenis sapi ini akan mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. Bobot maksimal sapi dewasa 600 kg dan sapi betina dewasa 400 kg. Persentase karkas 45-58% dan perbandingan daging serta tulang 4,25 :1.

Sapi Madura

Sapi Madura adalah salah satu sapi asli Indonesia. Sapi Madura berasal dari pulau madura dan pulau-pulau di sekitarnya. Pulau Sapudi sangat dikenal sebagai tempat sapi Madura berkembang pesat. Sapi Madura merupakan persilangan Bos sondaicus dengan Bos indicus. Ciri-ciri punuk diperoleh dari Bos indicus sedangkan warna diwarisi dari Bos sondaicus. Namun penelitian Popescu dan Smith (1998) menunjukkan bahwa pola karyotipik sapi Madura menunjukkan adanya kemiripan dengan Bos taurus, kecuali pada kromosom Y-nya yang mirip dengan Bos indicus. Sehingga Popescu dan Smith menyimpulkan sapi Madura merupakan hasil perkawinan silang antara indukan Bos taurus atau Bos javanicus dengan pejantan Bos indicus.

Sapi fresian Holstein (FH)

Sapi Friesian Holstein

Sapi Holstein memiliki produksi susu tertinggi di dunia. Holsteins berwarna hitam dan putih atau merah dan putih berwarna, hewan besar memiliki temperamen yang baik. Mereka mudah untuk tetap stabil, baik hati dan mudah untuk menangani. Anak-anak sapi muda berat sekitar 40 kg saat lahir sementara sapi Holstein dewasa berat sekitar 680 kg dan 148 cm berdiri di bahu. Sapi Holstein dapat dikawinkan dari 15 bulan. Mereka juga tahan terhadap stres, menunjukkan mentalitas kawanan yang baik dan bukan binatang soliter. Kehidupan normal produktif mereka adalah approximatelly enam tahun.

Selama bertahun-tahun, Holsteins dibiakkan dan ketat dipilih untuk mendapatkan hewan yang akan membuat penggunaan terbaik dari rumput, sumber daya yang paling berlimpah dari provices utara Belanda di mana ras memiliki asal-usulnya. Sebagai Holsteins inproves genetik potensial, sehingga feed dan pakan strategi menjadi lebih dan lebih imortant. Hal ini secara luas diketahui bahwa jumlah susu yang dihasilkan bergantung pada jumlah dan kualitas pakan sapi menerima.

Beberapa ternak dan bahkan beberapa negara rata-rata produksi susu melebihi 10.000 kg per ekor per tahun. Periode laktasi standar sebagian besar lebih dari 305 hari, diikuti oleh setidaknya dua bulan sebelum periode kering sebelum calving berikutnya. Melalui inseminasi buatan petani susu dapat dengan mudah mengontrol arah pemuliaan menggunakan semen dari sapi jantan peringkat atas dunia sehingga meningkatkan keuntungan genetik.


Faktor Faktor Kematian DOC

Tingkat mortalitas yang terbaik adalah 0% tapi ini mustahil. Akan tetapi dengan manajemen yang baik (pakan dan lingkungan) tidak menutup kemungkinan angka yang diperoleh akan mendekati 0%. Berikut kami uraikan beberapa penyebab kematian DOC dan upaya mengatasinya:
1. Dehidrasi
Terjadi karena pengangkutan dan ketika di dalam mesin tetas. Jarak pengangkutan yang terlalu jauh dapat menyebabkan DOC mengalami dehidrasi. Penyebab dehidrasi lainnya adalah tata laksana penetasan yang kurang baik seperti suhu mesin tetas yang terlalu tinggi dengan tingkat kelembaban yang rendah.
Cara mengatasi :
  • Memilih produsen DOC yang terdekat.
  • Memilih jasa pengiriman barang yang nyaman dan aman bagi ternak.
  • Memperhatikan kepadatan pada waktu pengiriman.
  • Memperhatikan tata laksana penetasan seperti suhu dan kelembaban.
  • Memilih dan memperhatikan umur telur tetas.
  • Penanganan yang tepat ketika DOC datang.
  • Memberikan sayuran (kecambah) waktu pengiriman.
  • Mengirim DOC yang hanya berumur satu hari (baru menetas).

Tata Laksana Penetasan

Penetasan yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah proses penetasan yang  besar pada usaha pembibitan itik maupun ayam. Hal ini disebabkan untuk sekali proses produksi bibit final stock paling sedikit 1.000 ekor. Adapun tata laksana proses penetasan adalah seperti berikut :
A. Penanganan Telur Tetas
Setelah telur tetas tiba di penetasan, telur-telur tersebut diseleksi kembali berdasarkan beratnya. Hal ini dilakukan terutama bila penanggung jawab penetasan dan peternakan (sumber telur tetas) berlainan. Tujuan seleksi telur adalah untuk mendapatkan bibit itik maupun ayam sesuai yang diharapkan. Dari tabel di bawah ini, dapat diketahui pengaruh berat telur terhadap berat awal anak ayam umur sehari yang ditetaskan dalam kondisi mesin tetas yang baik.

Rendahnya Daya Tetas telur

Daya tetas telur rendah merupakan menurunnya produktifitas ayam yang dipengaruhi  oleh berbagai faktor dalam menetaskan telurnya untuk mendapatkan bibit baru, sehingga bibit dapat berhenti dan tidak berkembang, secara tidak langsung dapat mengurangi  kebutuhan daging maupun telur. Adapun faktor-faktoryang menyebabkan daya tetas telur rendah adalah:
      a.Pakan
Pakan merupakan faktor penting yang harus dipenuhi agar produktivitas normal dan untuk bertelur memerlukan nutrisi yang cukup dan seimbang sehingga bisa tercapai poduksi telur yang baik dan proses penetasanpun akan semakin mudah dan subur (Rizal,2003).
Kebutuhan nutrisi untuk ayam petelur adalah Protein Kasar 18 g/hari, Energi Metabolis 2900kkal/kg, serat kasar kurang dari 7 g/hari, lemak kasar kurang dari 7 g/hari


b.Temperatur/suhu udara
Suhu merupakan keadaan besar kecilnya cuaca suatu daerah/area yang dapat mempengaruhi penetasan. (Christensen,2001). Suhu udara dalam mesin tetas pada ayam 38-39 0C dan pada itik 39-40 0C, puyuh 37-38 0C.

Bangsa Bangsa Sapi Potong

Perkembangan bioteknologi dibidang peternakan sudah sangat pesat sehingga saat ini bermunculan beberapa bangsa sapi potong baru, baik berasal dari persilangan maupun rekayasa genetik. Semua bangsa sapi potong yang ada di dunia ini memiliki klasifikasi zoologis sebagai berikut :
Filum                  : Chordata ( hewan yang memiliki tulang belakang)
Kelas                  : Mamalia ( hewan-hewan yang menyusui)
Ordo                   : Artiodaktili ( hewan berkuku/berteracak genap)
Sub ordo            : Ruminansia ( hewan memamah biak)
Famili                 : Bovidae ( hewan dengan tanduk berongga)
Genus                 : Bos ( pemamah biak berkaki empat)
Spesies               : 1. Bos Taurus, golongan sapi-sapi eropa
2. Bos Indicus, golongan sapi-sapi berpunuk
3. Bos Sondaicus, golongan  banteng (bosbanteng)

Pemilihan Fertilitas Telur

telur tetas fertil
Telur tetas yang dibuahi
Untuk menetaskan telur ayam atau bebek, tentunya telur yang akan ditetaskan adalah telur yang fertil atau dibuahi. Telur tanpa pembuahan atau tanpa adanya perkawinan dengan pejantan tidak mungkin bisa menetas. 
Kalau kita mempunyai peternakan sendiri, untuk mendapatkan telur tetas tentunya bukan hal yang sulit, karena kita mempunyai indukan yang kita ketahui jenis makanannya, perbandingan pejantan dan betinanya, apalagi kalau kita menggunakan perkawinan dengan sistem inseminasi buatan, kita akan lebih mudah mengetahui apakah telur itu dibuahi atau tidak. Walaupun jawaban yang lebih pasti dapat kita temukan ketika kita melakukan peneropongan setelah beberapa hari telur berada di dalam mesin tetas.

Kebanyakan pedagang telur tetas, atau pedagang bebek mengatakan dapat mengetahui ciri-ciri telur tetas yang fertil atau dibuahi berdasarkan dari ciri-ciri fisik telur yang akan di tetaskan. Bahkan ada yang mengatakan dapat membedakan telur tetas yang berisi embrio jantan dan embrio betina. Secara logika hal ini sangat sulit untuk diterima, Mengingat isi di dalam telur adalah sekumpulan sel yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat kasat mata. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetahui telur yang akan ditetaskan adalah telur yang fertil.
Apabila ada seseorang yang dapat mengetahui secara pasti ciri-ciri telur yang fertil atau dibuahi, sudah dapat dipastikan orang tersebut akan mendapatkan pendapatan yang sangat banyak dari penjualan telur tetas.

Sistem Pencernaan Ruminansia

1. Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli rumput.
2. Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lobar.
3. Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
4. Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum dan Abomasum.
Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadangkadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.
Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:

SISTEM PENCERNAAN PADA TERNAK UNGGAS


Sistem  digesti adalah suatu lintasan organ yang menghubungkan antara lingkungan dengan proses metabolisme alamiah pada hewan (Nesheim et al., 1979). Pencernaan diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak masuk dalam mulut sehingga diabsorbsi. Secara garis besar fungsi saluran pencernaan adalah sebagai tempat pakan ditampung, tempat pakan dicerna, tempat pakan diabsorbsi dan tempat pakan sisa yang dikeluarkan. (Kamal, 1994). Sistem pencernaan meliputi saluran pencernaan (paruh, mulut, tenggorok, lambung kelenjar, empedal, usus halus, usus buntu, usus besar, kloaka, anus) dan alat tambahan (hati, pankreas, lien).
Unggas mengalami proses pencernaan yang berbeda dengan hewan lain, meskipun mempunyai kesamaan pada prosesnya. Sebagaimana hewan lain proses pada saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip:
a.       Secara mekanik. Pencernaan secara mekanik pada unggas berlangsung pada empedal. Pakan di dalam empedal dengan adanya kontraksi otot empedal dengan bantuan grit akan diubah menjadi pasta.
b.      Secara khemis/enzimatis. Pencernaan secara enzimatis terutama dibantu dengan adanya senyawa kimia dan kerja dari enzim yang dihasilkan oleh alat-alat pencernaan.
c.       Secara mikrobiologik. Pencernaan secara mikrobiologik terjadi dengan adanya mikrobia yang ikut berperan dalam proses pencernaan. Pada ayam pencernaan secara mikrobiologik tidak berperan besar seperti pada ternak yang  lain, hanya sedikit ditemukan mikrobia pada tembolok dan usus besarnya. Pada tembolok ditemukan beberapa bakteri aktif yang menghasilkan asam organik seperti asam asetat dan asam laktat dan juga pada ceca terjadi sedikit pencernaan hemiselulosa oleh bakteri (Kamal, 1994).

Tips Meminimalisir Bau Kotoran Ayam

1. Dengan menggunakan KUNYIT .
KANDUNGAN KIMIA : Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya Kandungan Zat : Kurkumin : R1 = R2 = OCH3 10 % Demetoksikurkumin : R1 = OCH3, R2 = H 1 - 5 % Bisdemetoksikurkumin: R1 = R2 = H sisanya Minyak asiri / Volatil oil (Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil ) Lemak 1 -3 %, Karbohidrat 3 %, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, Garam-garam Mineral (Zat besi, fosfor, dan kalsium) sisanya
Penambahan Kunyit ke dalam pakan ternak diyakini dapat mengurangi bau amoniak pada kotoran. Fungsi kunyit dalam pakan adalah untuk meningkatkan kerja organ pencernaan unggas yaitu dengan merangsang dinding kantong empedu untuk mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Kotoran yang bau dikarenakan proses metabolisme yang kurang maksimal sehingga ada zat-zat makanan yang ikut terbuang melalui kotoran terutama protein.

Ternak Sapi Potong Di Indonesia

Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
2. SENTRA PETERNAKAN
Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.
Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.
3. J E N I S
Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.